LOGIN
Produksi Dan Produktivitas: Indonesia Masih Impor Pangan Di Tengah Potensi Pertanian Yang Melimpah
30 June 2026 10:23 WIB 29 Views

Produksi Dan Produktivitas: Indonesia Masih Impor Pangan Di Tengah Potensi Pertanian Yang Melimpah


Oleh:
Ade Pelita Oktaviani
Ayu Kuspratiwi
Anang Ramadhan
Isnan Ray
Najwa Khomaini

Mahasiswa Universita Pamulang, Prodi Manajemen

Kaya Alam, Tapi Masih Bergantung pada Impor Pangan?
Jika kita berbicara tentang kekayaan alam, Indonesia seolah tak pernah kehabisan bahan untuk dibanggakan. Bentangan wilayah yang memeluk garis khatulistiwa, lautan yang mengelilingi ribuan pulau, serta tanah yang terkenal subur sejak berabad-abad lalu — semuanya menjadi modal alam yang tidak ternilai. Di ladang-ladang petani kita, padi menguning setiap musim, jagung tumbuh menjulang, sementara singkong dan kedelai hampir tak pernah absen dari kalender panen. Ditambah lagi keanekaragaman buah dan sayuran tropis yang sulit ditemukan di belahan bumi mana pun.

Namun, fakta di lapangan tidak selalu seindah gambaran di atas. Sampai saat ini, kenyataan bahwa Indonesia masih rutin mendatangkan berbagai bahan pangan dari luar negeri adalah sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri. Tentu saja ini memunculkan tanda tanya yang wajar: mengapa sebuah negara yang dikenal begitu subur dan luas masih harus bergantung pada pasokan pangan negara lain? Jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Impor yang terus berlangsung dari tahun ke tahun mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang belum beres dalam sistem produksi pangan kita — sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar masalah lahan atau iklim.

Hemat saya, persoalan ini bukan soal kekurangan sumber daya alam. Indonesia jelas memilikinya, bahkan dalam jumlah yang melimpah. Masalah sesungguhnya terletak pada cara kita mengelola semua kekayaan itu. Keterbatasan teknologi pertanian yang digunakan, distribusi hasil bumi yang belum merata ke seluruh penjuru negeri, hingga angka produktivitas yang masih jauh dari potensi optimal — semuanya menjadi hambatan nyata yang belum berhasil kita atasi secara tuntas. Inilah tantangan besar yang perlu dijawab bersama.

Produksi Daging Sapi: Ketika Kebutuhan Melampaui Kemampuan Dalam Negeri
Daging sapi bisa dijadikan cermin yang cukup jelas untuk melihat kondisi ketahanan pangan kita. Data yang dikemukakan oleh Chair (2025) menunjukkan perkembangan yang cukup memprihatinkan: tingkat kemampuan negara memenuhi kebutuhan daging sapi dari produksi sendiri — yang diukur melalui Self Sufficiency Ratio (SSR) — mengalami penurunan dari 75,20 persen pada tahun 2018 menjadi tinggal 68,57 persen pada tahun 2022. Dengan kata lain, lebih dari sepertiga kebutuhan daging sapi masyarakat kita kini sudah harus dipasok dari luar negeri. Bukan sekadar angka di atas kertas; ini cerminan betapa rentannya ketahanan pangan kita di sektor peternakan.

Kondisi ini tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Setidaknya ada dua persoalan mendasar yang terus berulang. Pertama, ketersediaan pakan ternak yang berkualitas masih menjadi hambatan klasik yang belum terpecahkan, khususnya bagi peternak yang tinggal di kawasan terpencil. Kedua, skala usaha peternakan di Indonesia masih didominasi oleh usaha kecil dengan cara-cara yang tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan — yang sejatinya sudah terbukti mampu mendongkrak populasi ternak secara signifikan — belum diterapkan secara merata dan menyeluruh di berbagai daerah.

Bila situasi ini dibiarkan berjalan tanpa intervensi serius dari berbagai pihak, ketergantungan pada impor daging sapi akan semakin mengakar dan sulit diurai. Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih konkret dan terarah kepada sektor peternakan: mulai dari menjamin akses peternak terhadap pakan berkualitas, memperbaiki mutu bibit ternak, hingga menghadirkan program pelatihan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan peternak di tingkat akar rumput. Dengan dukungan yang tepat sasaran, peningkatan produksi dalam negeri bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

Padi: Tulang Punggung Ketahanan Pangan yang Harus Terus Diperkuat
Di antara berbagai komoditas pangan, padi menempati posisi yang tidak tergantikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Beras adalah makanan pokok yang menyatukan ratusan juta penduduk dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga desa terpencil. Maka wajar apabila upaya peningkatan produksi padi selalu menjadi salah satu isu utama dalam kebijakan pangan nasional dari masa ke masa.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2023) menawarkan gambaran yang cukup menarik sekaligus memberi harapan. Dari hasil kajiannya, diketahui bahwa pengelolaan irigasi yang baik dan terencana mampu mendorong peningkatan produksi padi hingga 20,9 persen. Sementara itu, penggunaan pestisida yang dilakukan secara tepat dan terukur berkontribusi pada kenaikan hasil sebesar 26,1 persen. Angka paling mencolok datang dari penggunaan benih bersertifikat, yang terbukti dapat meningkatkan produksi sampai 30,6 persen. Dari data ini, jelas terlihat bahwa petani kita sebenarnya mampu berproduksi jauh lebih baik — asalkan didukung oleh sarana dan teknologi yang memadai.

Sayangnya, akses terhadap berbagai fasilitas penunjang itu masih sangat tidak merata. Di sejumlah wilayah, kondisi jaringan irigasi yang rusak atau tidak memadai masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Ketika musim kemarau datang, kekurangan air bisa langsung menurunkan hasil panen secara drastis. Ini bukan semata persoalan teknis kemampuan petani, melainkan juga cerminan dari kesenjangan infrastruktur yang masih menganga lebar. Oleh karena itu, pemerintah perlu lebih serius mendorong pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, sekaligus memperkuat program penyuluhan pertanian agar pengetahuan tentang benih unggul dan teknik budidaya yang baik benar-benar dapat menjangkau petani kecil di pelosok-pelosok daerah.

Limbah Pertanian: Potensi Besar yang Selama Ini Terbuang Sia-sia
Ada satu dimensi dalam sistem pertanian kita yang selama ini kurang mendapat sorotan publik, padahal menyimpan potensi yang luar biasa: limbah biomassa pertanian. Menurut penelitian Rhofita (2022), komoditas seperti padi, jagung, kedelai, dan singkong menghasilkan sisa-sisa biomassa dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya. Yang menarik, limbah ini sesungguhnya bukan sekadar sampah yang harus dibuang — di baliknya tersimpan nilai ekonomi yang besar, asalkan dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Ironisnya, sebagian besar biomassa pertanian itu masih berakhir dibakar di tepi ladang atau dibiarkan membusuk begitu saja. Ini adalah pemborosan yang menyedihkan, karena sebenarnya bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Jika dimanfaatkan secara serius, biomassa pertanian tidak hanya bisa membantu mengurangi beban pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat di pedesaan.

Menurut pandangan saya, inovasi di bidang pengolahan limbah pertanian ini perlu terus dikembangkan dan mendapat fasilitasi nyata dari pemerintah. Teknologinya sebenarnya sudah tersedia; yang kurang adalah keseriusan dan konsistensi dalam mengembangkannya. Jika hal ini berhasil diwujudkan, petani pun akan memiliki sumber pendapatan tambahan dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna — sebuah win-win solution yang layak diperjuangkan.

Lahan Rawa Pasang Surut: Harapan Baru yang Menanti untuk Digarap
Berbicara soal potensi pertanian yang belum tergarap, Indonesia ternyata menyimpan lahan rawa pasang surut yang luasnya mencapai sekitar 8,35 juta hektare. Susilawati dkk. (2016) menyebutkan dalam penelitiannya bahwa hamparan lahan ini menyimpan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan produksi pangan baru yang belum banyak dieksplorasi.

Memang, mengelola lahan rawa tidaklah sama dengan mengerjakan sawah biasa. Tingkat keasaman tanah yang tinggi dan karakteristik hidrologi yang berbeda menuntut penanganan teknis yang lebih intensif dan pengetahuan yang lebih mendalam. Tidak sedikit orang yang kemudian memandang lahan ini sebagai lahan yang tidak produktif dan akhirnya meninggalkannya begitu saja. Namun perkembangan ilmu dan teknologi pertanian modern memberi gambaran yang berbeda: dengan pendekatan dan manajemen yang sesuai, lahan rawa pun bisa ditanami berbagai jenis komoditas dan menghasilkan panen yang cukup menjanjikan.

Lebih jauh, penelitian tersebut memperkirakan bahwa optimalisasi lahan rawa pasang surut berpotensi menambah produksi gabah nasional hingga sekitar 2,44 juta ton per tahun. Ini angka yang sungguh tidak bisa dianggap remeh. Saya percaya bahwa potensi sebesar ini terlalu berharga untuk dibiarkan terlantar begitu saja. Jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan didukung kebijakan yang tepat, lahan rawa bisa menjadi salah satu pilar penting dalam memperkokoh ketahanan pangan Indonesia di masa yang akan datang.

Pada akhirnya, ada satu hal yang perlu kita akui dengan jujur: Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi kita belum benar-benar berhasil memanfaatkan kekayaan itu secara optimal. Fakta bahwa kita masih rutin mengimpor daging sapi dan berbagai komoditas pangan lainnya adalah bukti nyata bahwa ada jarak yang cukup jauh antara potensi yang kita miliki dan realita yang kita hadapi. Meski begitu, jarak itu bukanlah jurang yang tidak bisa dijembatani. Ia hanya butuh komitmen yang sungguh-sungguh dan kerja keras yang konsisten dari semua pihak.

Langkah-langkah konkret sesungguhnya sudah ada di depan mata: meningkatkan produksi daging sapi melalui modernisasi peternakan, memaksimalkan hasil panen padi lewat perbaikan infrastruktur irigasi dan akses terhadap benih unggul, mengubah limbah biomassa pertanian menjadi sumber nilai ekonomi baru, serta membuka dan mengoptimalkan potensi lahan rawa pasang surut yang selama ini terbengkalai. Tidak perlu semuanya dijalankan serentak, namun masing-masing perlu mendapat perhatian yang lebih serius dan konsisten. Jika seluruh potensi ini dikelola dengan kebijakan yang tepat dan berpihak pada kepentingan nyata petani, saya percaya Indonesia punya peluang yang sangat nyata untuk lepas dari ketergantungan impor pangan dan berdiri lebih tegak di atas tanahnya sendiri yang subur.


Sumber Bacaan:

Azahari, D. H. (2008). Membangun kemandirian pangan dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, 6(2), 174–195.

Chair, S. (2025). Optimalisasi produksi dalam negeri untuk mewujudkan ketahanan daging tanpa ketergantungan impor. ARMADA: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(4), 99–106.

Kumara, D., & Ramadhani, S. F. (2023). Analisis Sumber Daya Manusia Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Dengan Metode Qspm Pada Kelurahan Lengkong Gudang Timur Di Kota Tangerang Selatan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan9(13), 754-765.

Putri, F. A. (2023). Optimalisasi produksi padi menuju ketahanan pangan di Jawa Tengah: Analisis data survei pertanian terintegrasi 2021. Prosiding Seminar Nasional Official Statistics 2023, 827–838.

Rhofita, E. I. (2022). Optimalisasi sumber daya pertanian Indonesia untuk mendukung program ketahanan pangan dan energi nasional. Jurnal Ketahanan Nasional, 28(1), 81–99.

Susilawati, A., Nursyamsi, D., & Syakir, M. (2016). Optimalisasi penggunaan lahan rawa pasang surut mendukung swasembada pangan nasional. Jurnal Sumberdaya Lahan, 10(1), 51–64.