LOGIN
Analisis Lingkungan Bisnis dan Ekonomi: Melemahnya Daya Beli Masyarakat Akibat Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Di Indonesia
30 June 2026 09:36 WIB 30 Views

Analisis Lingkungan Bisnis dan Ekonomi: Melemahnya Daya Beli Masyarakat Akibat Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Di Indonesia


Penulis:

Cahaya Muttaqiin 231010506672
Hapsari Fitria Utami 231010503468
Lydia Fika Bella 231010506640
Muhammad Ibrahim Assyukur 231010506663

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen

Kenaikan harga kebutuhan pokok memberikan dampak langsung terhadap kemampuan konsumsi masyarakat.  Kenaikan harga bahan pokok menyebabkan masyarakat harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pangan sehingga mengurangi kemampuan membeli kebutuhan lainnya (Imbran & Kombongkila, 2024). Selain itu, inflasi yang terjadi pada sektor pangan juga memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga.  Inflasi pangan menyebabkan penurunan daya beli masyarakat karena harga kebutuhan sehari-hari meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan masyarakat (Istikomah et al., 2024). Masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan primer, sehingga ketika harga naik, kemampuan memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan tabungan menjadi semakin terbatas.

Dampak Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok terhadap Daya Beli Masyarakat
Kenaikan harga kebutuhan pokok memberikan dampak langsung terhadap kemampuan konsumsi masyarakat.  Kenaikan harga bahan pokok menyebabkan masyarakat harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pangan sehingga mengurangi kemampuan membeli kebutuhan lainnya (Imbran & Kombongkila, 2024). Selain itu, inflasi yang terjadi pada sektor pangan juga memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga.  inflasi pangan 
lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan primer, sehingga ketika harga naik, kemampuan memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan tabungan menjadi semakin terbatas.

Dari sisi penawaran, kenaikan harga kebutuhan pokok sering disebabkan oleh terganggunya produksi dan distribusi barang. Cuaca ekstrem, gagal panen, kenaikan harga pupuk, serta meningkatnya biaya transportasi dapat mengurangi jumlah pasokan barang di pasar. Ketika jumlah barang yang tersedia berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga akan meningkat (Maulana & Hasibuan, 2024). Selain itu, kenaikan harga energi dan bahan bakar juga berdampak pada biaya distribusi kebutuhan pokok.  Kenaikan harga energi berkontribusi terhadap meningkatnya biaya logistik sehingga harga barang kebutuhan pokok di tingkat konsumen ikut mengalami kenaikan (Hanna & Nirmala, 2025).

Dari sisi permintaan, kenaikan harga kebutuhan pokok menyebabkan masyarakat mengurangi jumlah konsumsi terhadap beberapa barang tertentu. Namun, karena kebutuhan pokok merupakan barang esensial, penurunan konsumsi biasanya tidak terlalu besar. Masyarakat tetap membeli barang tersebut meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit atau memilih produk dengan kualitas yang lebih rendah (Aji et al., 2024). Dari sisi permintaan, kenaikan harga kebutuhan pokok menyebabkan masyarakat mengurangi jumlah konsumsi terhadap beberapa barang tertentu. Namun, karena kebutuhan pokok merupakan barang esensial, penurunan konsumsi biasanya tidak terlalu besar. Masyarakat tetap membeli barang tersebut meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit atau memilih produk dengan kualitas yang lebih rendah (Aji et al., 2024). Kenaikan harga kebutuhan pokok menyebabkan masyarakat mengurangi jumlah konsumsi terhadap beberapa barang tertentu. Namun, karena kebutuhan pokok merupakan barang esensial, penurunan konsumsi biasanya tidak terlalu besar. Masyarakat tetap membeli barang tersebut meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit atau memilih produk dengan kualitas yang lebih rendah (Aji et al., 2024).

Dampak terhadap Perekonomian Nasional
Melemahnya daya beli masyarakat tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada perekonomian nasional. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika masyarakat mengurangi pengeluarannya akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, aktivitas ekonomi di berbagai sektor ikut mengalami perlambatan. Inflasi yang tinggi dapat menekan konsumsi rumah tangga dan menghambat pertumbuhan ekonomi (Alam et al., 2024). Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan tingkat kemiskinan karena masyarakat berpenghasilan rendah semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, menurunnya daya beli masyarakat dapat mengurangi penjualan pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada konsumsi masyarakat. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi kurang optimal dan tingkat kesejahteraan masyarakat menurun.

Kenaikan harga kebutuhan pokok dapat dijelaskan melalui teori permintaan dan penawaran. Ketika terjadi gangguan produksi atau distribusi, jumlah barang yang tersedia di pasar berkurang sehingga kurva penawaran bergeser ke kiri. Pergeseran tersebut menyebabkan harga keseimbangan meningkat. Di sisi lain, kenaikan harga membuat sebagian masyarakat mengurangi konsumsi sehingga permintaan sedikit menurun. Namun, karena kebutuhan pokok merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, penurunan permintaan tidak sebesar penurunan penawaran. Akibatnya, harga tetap berada pada tingkat yang tinggi dan daya beli masyarakat terus mengalami tekanan (Maulana & Hasibuan, 2024). Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat di Indonesia.

Kenaikan harga kebutuhan pokok di Indonesia memberikan dampak yang signifikan terhadap daya beli masyarakat. Faktor-faktor seperti inflasi, kenaikan biaya distribusi, gangguan produksi, dan kenaikan harga energi menyebabkan harga kebutuhan pokok terus meningkat. Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga kemampuan konsumsi menurun. Melemahnya daya beli masyarakat juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional karena konsumsi rumah tangga menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok melalui peningkatan produksi, penguatan distribusi, pengendalian inflasi, dan pemberian bantuan kepada masyarakat yang terdampak agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.


Bacaan Referensi:

Imbran, H., & Kombongkila, F. (2024). Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok Terhadap Daya Beli Masyarakat di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. JPPE.

Isran, S. R., dkk. (2025). Faktor Penentu Daya Beli Masyarakat Berdasarkan Tingkat Inflasi, Tingkat Pendapatan Masyarakat, dan Harga Kebutuhan Pokok.

Istikomah, A., dkk. (2024). Dampak Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat di Lampung Tahun 2024 dalam Perspektif Ekonomi Makro.

Maulana, R. D., & Hasibuan, R. R. A. (2024). Dampak Kenaikan Harga Barang Pokok terhadap Pola Pengeluaran Masyarakat.

Alam, W. Y., dkk. (2024). Subsidi dan Inflasi Dalam Ketidakpastian Global: Implikasi Terhadap Daya Beli Masyarakat Indonesia.

Aji, G., Zein, M. N., Oktavianti, N., & Rosyada, H. A. (2024). Pengaruh Daya Beli Masyarakat Terhadap Kenaikan Harga Bahan Pokok di Wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan.